26 December 2006

kepada jingga

pada jingga aq bercerita,
tentang jiwa yang tak setia
tentang rasa yang sering lara
tentang harap yang tak kunjung tiba

pada jingga kututurkan rinduku,
pada malam yang melepas gundahku
pada butir bening di ujung sajadahku
pada hening yang menemani pertemuanku

pada jingga aku berkata,
hari ini aku mencoba setia
hari ini aku kembali mencari cinta
hari ini aku tegak mengumpulkan asa

tapi janji hanya kata yang mudah terlupa
hingga jiwa kembali berdosa
dengan gelimang nikmat bangga

pada jingga aku bertanya,
kemana ku cari cinta
kemana ku petik rindu yang tiada
kemana ku puja jiwa yang setia

aku masih menatap jingga
dengan pandang seribu asa
mengharap cinta kembali
meminta pada kekasih sejati

jkt, 6 feb '06
karena hanya kepada jingga aq bisa bercerita...

dua sisi

aku tak ingin menyakiti
untuk sebuah niatan suci
atas nama cintaNya
untuk satu bilangan sempurna

aku mendamba yang terbaik
untuk gapai cintaNya yang juga terbaik
dalam samudra hidup penuh uji
dengan dukungan yang diperlukan hati

Rabbana...
padaMu aku berserah
dengan cintaku yang lemah
dengan sisa tenaga yang ku punya
tertatih menggapai surga nun jauh di sana

jkt, 7 feb '06
dua sisi untuk yang ke sekian kali...

dua sisi

aku tak ingin menyakiti
untuk sebuah niatan suci
atas nama cintaNya
untuk satu bilangan sempurna

aku mendamba yang terbaik
untuk gapai cintaNya yang juga terbaik
dalam samudra hidup penuh uji
dengan dukungan yang diperlukan hati

Rabbana...
padaMu aku berserah
dengan cintaku yang lemah
dengan sisa tenaga yang ku punya
tertatih menggapai surga nun jauh di sana

jkt, 7 feb '06
dua sisi untuk yang ke sekian kali...

ajari aku

ajari aku
bagaimana menatap langit
dengan lapisan awan yang berbukit
dan cahaya yang menyinar jiwa
hingga aku bisa mendamai rasa

ajari aku
bagaimana merajut bintang
dengan sinarnya yang benderang
hingga jiwaku tetap tegar dan lapang
ketika ujian itu datang

ajari aku
bagaimana menyapa rembulan
dengan mengukir senyuman
hingga aku bisa menepis gelisah
dan meretas badai amarah

ajari aku
bagaimana berbincang dengan senja
dengan jingganya yang menyala
hingga aku bisa melihat segalanya berbeda
dan pahami hakikat sebenarnya

ajari aku
bagaimana memandang semesta
hingga aku bisa mencintaiNya di atas segala

jkt, 13 feb '06
untuk yang sedang berjuang di luar sana...

merindu sunyi

maka malam manakah yang kan menemaniku
ketika hening meninggalkanku
memerangkap pada sisi keruh
memaksa pada ruang jenuh

ketika sunyi semakin jauh dari jangkauan
akankah jiwa merindukannya
ketika sepi menghindar dari lamunan
akankah hati rela melepasnya

bayang masih tetap menghampiri
dengan asa yang seolah pasti
mengikat dengan benang2 maya
yang seolah terlihat nyata

jkt, 20 feb '06
maka malam manakah yang kan menemaniku merindu sunyi?

ketika jingga tak temani senja

menyapa senja bersamamu
mencoba hadirkan masa yang telah berlalu
bersama mengukir cita
melambungkan angan ke alam nyata

jingga tak temani senja
hanya hitam, kelabu, dan setipis putih yang tak terlalu nyata
mungkinkah menyuarakan jeritmu?
mungkinkah mengungkap lelahmu?

kudengar gelakmu
melambung ke udara senja kelabu
kuukir senyumku
menyambut gelak yang kurindu

mungkinkah hatimu juga tertawa?
mungkinkah gelakmu bisa menutup luka?
tak sanggup kutatap pandangan ceriamu
karena aku takut hanya akan melihat luka yang membiru

jika saja gerimis senja bisa menghapus luka
jika saja angin senja bisa terbangkan duka
aku kan bahagia
bersamamu, menyapa senja

jkt, 26 feb '06
for a best friend... andi

ketika rindu menyapa

ketika seruanMu mengangkasa
memenuhi langitMu dengan penghambaan cinta
dan hati masih saja biasa
menemuiMu tanpa cinta

ketika dua salam berakhir
dan lisan berdzikir
masih tetap bersama hampa
tanpa cinta di sana

hanya saja pandangan menjadi kaca
memberkas suram cahaya
ketika teringat rindu
pada cinta yang mungkin tak begitu menggebu

rindu pada yang tercinta
yang sering terlupa dalam doa
yang telah memberi begitu banyak cinta
tapi dianggap biasa

rindu pada Pemilik segala cinta
yang telah memberi segala
tapi sering terlupa
larut dalam putaran dunia

rindu yang berharap selalu dirindu
dalam setiap hela nafas yang menderu
demi mengharap cinta sejati
demi menghiba surga yang suci

selepas maghrib, 11 Shafar 1427 H (13 maret '06)
Rabbana, izinkan aku tuk selalu merinduiMu
dan orang2 yang memberiku cinta

kepada mentari


aku di sini...
mengadu pada mentari sore hari
pada sisi jendela berterali
bertemankan basah tanah karena gerimis pagi

mentari...
putih sinarmu menyilau mata
membuatku berpaling pada kaca
menatap asing di depan sana

entah untuk berapa lama
aku harus menatap kaca
hingga bisa mengerti arti semua

haruskah ku tunggu hingga senja?
tuk sekedar pahami asing di sana?

mentari...
ku ingin melihat senyum di kaca itu
tapi aku tak mampu...
seperti juga aku tak mampu melihat senyummu

21 nov 2004
waktu comday, daripada bengong akhirnya buka2 diary, dan ttaraaa.... nemu coretan ini. ngga bagus banget memang. tapi, paling ngga jadi inget perasaan waktu itu. taelahh....:p

selamat datang, malam

selamat datang malam
selimutilah jiwa-jiwa yang resah
jauhkan mereka dari kelam
hingga mereka terlepas dari gelisah

selamat bertemu kembali
dengan rasa yang tak pernah usai
hingga lelah tak bisa menghibur hati
dan perjalanan seakan baru saja dimulai

ketika pandangan tak bisa terpejam
padahal warnamu semakin menghitam
hanya ada rangkaian kisah
yang berputar ulang menumpahkan keluh dan kesah

tentang peka yang semakin menipis
malu yang tiap hari terkikis
ikhlas yang sering kali goyah
juga riya' yang semakin berdiri pongah

aahhh...
kemana lagi ku tata hati
selain hanya padaNya semua kembali
hingga selalu bisa kuperbarui
iman yang melekat di hati

21 maret 2006
dalam keputus-asa-an temenan ma insomnia. setelah ada yang berbaik hati ngajakin ngobrol mpe setengah satu (thx nyit) ngga tau musti ngapain lagi. akhirnya, ya gini ini. ngga jelas:p

kepada bintang nun jauh di sana

mungkin pagi ini yang harus ku nantikan
melepas bayangmu dari kejauhan
merelakan sinar yang kadang ku rindukan
berharap akan datangnya sinar lain yang menggantikan

kita mungkin tak pernah berkata
meski hanya sekedar sapa
hanya saja...
aku melihat pesona kelembutan di balik angkuhmu
kebijaksanaan dalam selubung diammu

Maha Besar Dia yang telah menciptakanmu
memberi cahaya sebagai pesonamu
tapi aku tahu...
cahaya itu bukan untukku

jkt, 27 maret '06
setelah teguranMu, aku hanya ingin ber-ikhlas diri atas semua ketetapanMu

kau tak kan pernah bisa

kau tak kan pernah bisa mendustai hati
hanya karena demi ketegaran
tak lantas membuat hati mau menepi
memberikan ruang atas nama ketegaran

kau tak kan pernah bisa memaksa hati
menyimpan rapat semua gundah
meretas gelisah dengan nyanyian sunyi
hingga bisa berbincang dengan jiwa tanpa resah

kau tak kan pernah bisa menipu hati
sembunyikan pedihnya lara
sodorkan senyum yang mengembang setiap hari
demi sebuah rasa yang tak ingin kau pelihara

kau hanya bisa jujur pada hati
ungkap semua dalam nyata
demi sebuah jiwa abadi
karena dia tahu semua

akhir shafar 1427 H (30 maret '06)
kita mungkin bisa berpura-pura di depan mereka;
tapi kita tak mungkin bisa menipu hati dan Dia

dalam sunyi

gulita malam bergulir
berteman angin yang semilir
mencekat semua kata
hingga tak ada lagi bicara

hanya mata yang menerawang
menembus celah waktu
hampirkan mimpi berkarang
hanya karena semua belum berlalu

debar dada itu kian terasa
pada perih luka yang tergores asa
juga kecewa yang terlalu dini
merambah lembar-lembar sepi

dalam sunyi yang menoreh hati
merelakan kepingan mimpi
pada angin yang berlari
meninggalkan sunyi...

jkt, 4 april '06

cintaku luruh

cintaku luruh
bersama deru angin yang gemuruh
lunglai...
bersama semua yang belum usai

cintaku luruh
ditelan badai keruh
yang sengaja ku cipta
meski semua tetap sama

cintaku luruh
bertelekan mimpi sepenuh
berbayang perih rasa
tapi rindu masih saja setia

ku relakan cintaku
atas nama cinta
atas nama setia
demi Dia yang ku rindu

jkt, 6 april 2006
sepenuh harap untuk merelakan semua;
untuk bisa mencintaiMu sepenuh jiwa

hanya...

tak ada cerita
juga senandung cinta
hanya rindu yang tiada
yang selalu terlihat nyata

tidak ada yang istimewa
hanya menunggu...
sirnanya rasa
menyisakan jiwa yang keliru
hadapi kenyataan
yang mungkin menyesakkan

hanya berharap...
waktu semakin berderap
melepas jeruji asa
memutus tali rasa

hanya meminta...
dingin pelindung hati
senyum penegak jiwa
dan waktu berlari...

23 april 2006
ketika hujan baru saja berhenti,
menyisakan dingin untuk selimut bumi.
mungkinkah dingin itu untukku?

sebuah episode

rindu membuncah kembali
cemburu mewarnai hari
hanya karena di ujung sana ada pelangi
yang terlanjur memikat hati

mentari...
sejak kapan hati terpaut padamu?
sejak kapan mata tertunduk malu?
akan hadirmu di sepanjang hari

jika menatap pun tak kuasa,
lalu kenapa semua ini ada?

takdirNya telah berkata;
semua jiwa berbekal rasa

mentari...
ingin ku serahkan semua rasa padamu
tak ingin ku ambil kembali
agar bisa ku semai jiwa baru
untuk sebuah rasa yang lebih sejati

jkt, 27 april 2006
sebuah episode yang seharusnya terlewati begitu saja...

yang sering berulang

kembali...
rindu itu menyeruak
tanpa permisi...
tanpa peduli keping hati terserak

tiba-tiba saja dunia menyempit
menumpahkan beban yang menghimpit
memaksa mata berkaca-kaca
menumpahkan air mata

ingin teriak ke angkasa meluapkan amarah
tapi pada siapa?
dan atas dasar apa?

selalu keadaan yang dicela
hanya karena merasa sepi sendiri...
tak bisa menatap tawa

tiba-tiba saja tarikan nafas memanjang
melepas beban yang bersarang
dan rindu itu pun pergi
meninggalkan hati yang tak mengerti

awal rabi'ul akhir 1427 H (1 mei '06)
entah mengapa...
rindu itu sering datang bersamaan dengan kumandang adzan maghrib dan pergi begitu saja ketika mata telah berkaca-kaca

menunggu bintang jatuh

mentari baru saja menyisakan jingga di langit barat
dan dia telah di sana
menunggu...
apa yang selama ini diharapkannya terjadi

bulan sabit merangkak perlahan ke langit timur
bercakap akrab dengan bintang
menemani malam yang baru saja datang
membuatnya iri...

angin malam datang membawa dingin
memaksanya sesekali menggigil
tapi dia tetap tak bergeming,
menatap bintang...

bintang...
lirih suaranya memanggil,
tertelan deru malam.
ditatapnya dalam-dalam
bintang nun jauh di sana
dengan cahayanya yang bijaksana
dan diamnya yang berwibawa

dipejamkannya mata
berharap sesuatu terjadi
tapi semua sia-sia...
bintang tetap diam.
tak bergerak,
melesat jauh seperti yang diinginkannya

malam semakin larut dalam sunyi
dan dia masih di sana...
menatap bintang
menunggu bintang melesat jauh,
membawa cita dan cintanya

dan bintang tetap nun jauh di sana
diam...

jkt, 4 mei '06
tak ada yang tak mungkin di dunia ini
jadi, sah-sah saja kan menunggu datangnya keajaiban?!

puisi

membacamu...
melafadz kata demi kata,
membuatku tak mengerti
tak sanggup mencapai kedalaman arti

menulismu...
menggores tiap suku kata,
menuang segala rasa
antara percaya dan tidak percaya
mampu menahan gemuruh dada

apalah sebenarnya arti dirimu?
sekedar menuang rasa?
menggantung tinggi angan dan cita?
penenang hati yang gelisah?
pengawal setia tirani harga diri yang terlalu tinggi?
ataukah...
sebuah kepengecutan atas nama kebaikan hati?

hingga mereka tak terbuang waktunya hanya karena keluhku
hingga mereka tetap nyaman tanpa pernah tau gejolakku
hingga mereka tetap tersenyum ramah pada perangaiku
hingga mereka tidak terganggu dengan niatan-niatanku

ahh...
tak penting seberapa besar arti dirimu
tak penting juga seberapa pandai mereka membacamu
toh aku tak peduli apa kata mereka
aku hanya ingin berbagi dengan dirimu seorang
dan Dia yang tahu segala
atas apa yang ku rasa,
atas semua rahasia,
yang tak ingin ku bagi dengan mereka.

jkt, 7 mei '06

seperti malam-malam sebelumnya

satu dua bintang bergemintang
rembulan nyaris separuh menyapa malu tersipu...
bersembunyi di balik awan tipis kelabu

angin tak berdesir
sebagaimana air juga tak mengalir
semua nyaris sama
seperti malam-malam sebelumnya

satu yang berbeda
satu yang membuat hilang sepi
satu yang menepis rasa
hingga semua terasa berbeda

bayang semu asa tercerabut
sembilu rindu menumpul keping memori
terhambur ke langit
jatuh kembali menimpa bumi
tapi dengan alas daun-daun jiwa yang rela

8 mei 2006 semua indah...
ketika merelakan semua berjalan apa adanya

semua... kecuali aku!

fajar ini semesta berhenti bergerak
tertunduk takzim...

matahari dalam peraduannya,
bintang yang beranjak pulang,
bulan separuh di langit barat,
pohon beserta daun-daunnya,
juga burung dalam sangkar alamnya

semua diam
hingga angin pun tak berdesir
awan tak bergeming
dan langit tertunduk dalam diam

detik berlalu...
semesta riuh
dalam lembut alunan merdu
melafadz nama agungMu,
memuji segala kebesaranMu,
mengucap syukur atas nikmat yang Kau beri,
memohon ampun atas segala ketidak-taatan,
mengemis rahmat yang selama ini dicari

semesta bersujud
pada tempat terendah mereka diciptakan
semesta bersujud
dengan segala ketaatannya
semua bersujud...
kecuali aku!

jkt, 12 mei '06
ratusan kali aku bersujud padaMu, hanya saja,
hatiku masih sering tidak ikut bersujud...

pernahkah kau?


pernahkah kau menatap cinta?
melalui degup jantung yang melahirkan selaksa gemuruh dada,
pada pandangan yang tertunduk malu karena sekelebat bayang yang tidak menjadi hakmu,
pada bibir yang terkunci rapat dalam dialog penuh harap,
pada kilat samar bayang yang datang tiap detik tanpa dipinta.

pernahkah kau menyapa cinta?
lewat senyum kerelaan atas semua khilaf,
dengan tawa lepas menyusur jalan kenangan,
dengan tangis yang kau sembunyikan ketika ia terluka,
dengan diam terpaku karena membuatnya kecewa,
dengan tatapan resah di ujung perpisahan,
dengan rindu yang sering menuntut air mata.

pernahkah kau berbincang dengan cinta?
ketika kau berdiri termangu menatap langkah yang telah berbelok,
ketika tangismu pecah meminta rinduNya,
ketika jiwamu hampa tanpa kehadiranNya,
ketika kau ingin menjadikanNya sebagai kekasih sejati.

jkt, 18 mei '06

teguran itu

ada yang menahanku,
berkisah tentang sabtu kelabu
kepiluan menatap wajah-wajah duka,
ketakutan kehilangan orang-orang tercinta.

Rabbana...
pantas saja Kau tegur kami
melalui bumi yang senantiasa taat padaMu
tidak seperti kami...
orang-orang lemah yang tak pernah mensyukuri nikmat
yang senantiasa meminta lebih dan lebih
yang terpesona dalam gemerlap fana
yang mengaku cinta tapi tak pernah tunduk padaMu

Rabbana...
hati ini hitam legam
dipenuhi lintasan-lintasan niat khianat
terjejali takabur karena amal dan ilmu yang teramat sangat sedikit
jauh dari ikhlas yang menyucikan
apalagi istiqomah yang berujung jannah

aku tak kan pernah layak ke surgaMu
jika tanpa ampunan dan rahmatMu

Rabbana...
ampuni diri-diri kami yang hina
ampuni segala ketidaktaatan kami

Rabbana...
izinkanku kembali merajut benang-benang cintaMu
dengan segala kelemahanku...

jkt, 30 mei '06
ada seorang teman kuliah, Ika Cahyaning, yang meninggal waktu terjadi gempa di Jogya dan Klaten, sabtu, 27 mei 2006. semoga dosa-dosanya terampuni...

yang terhenti

semua berhenti
pada satu waktu
yang mengungkap semua
tentang rindu, cinta, juga benci.
dan luka.

semua terhenti
dalam hening yang mengembalikan jiwa,
memanah rindu pada yang semestinya,
mengais cinta pada yang hakiki

terhenti...
pada selintas cahaya yang meninggalkan goresan makna
untuk satu kesempatan
satu kekuatan
mencintai yang abadi

jkt, 7 juni '06

aku ingin merinduMu

aku ingin merinduMu
dalam setiap hela nafas
dalam setiap detak jantung
dalam setiap tatap mata
hingga dalam tiap detik waktu

aku ingin merinduMu
pada malam-malam yang sunyi
dalam sujud terendahku
pada jiwa yang berkembara mencari cinta

aku ingin merinduMu
tidak sebatas kata
tapi jiwa yang menempati ruang kehidupan
hingga semua berjalan atas nama cintaMu

jkt, 7 juni '06

gerimis di pagi hari

hanya lirih tetes air
pada pagi dalam balutan dingin yang sunyi
berirama...
mencipta harmoni semesta

gerimis pagi yang datang terlambat,
mencuri sejenak tahta mentari
sekedar menghapus debu usang kehidupan

gerimis pagi berubah irama
tidak lagi lirih tetes air
tapi deras aliran dari langit
dengan gelegar halilintar

dingin...
sunyi mencekam
ketakutan merayapi
atas semesta yang bersimfoni

jkt, 7 juni '06

pagi ini, jakarta hujan.
dan tiba-tiba saja aku teringat hujan di malam hari setelah terjadi gempa di Jogya.
maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?

yang telah pergi

sekian lama kunantikan detik ini
ketika kau terbang lepas
mengangkasa...
meninggalkan damai jiwa
bertahta pada biru langit
dengan awan putih yang membukit

berbuncah haru pada nurani yang menunggu
ketika tergenggam bara rindu
terdekap erat nyala cinta
yang selama ini tertutupi pesona sayapmu

tak ada yang lebih mulia
selain kembalinya jiwa dari kembara yang menyayat hati

tak ada yang lebih indah
selain perpisahan yang mengembalikan cinta sejati


jkt, 12 juni '06

purnama

menatapmu...
mencipta selaksa damai
membangkitkan rindu jiwa

jika saja kaki bisa beranjak
maka langkah kan menghampirimu
di sisimu...

jika saja tangan bisa menggapai
kan terulur menyapamu
sekedar menyeka dukaku

menatapmu...
mencipta lautan rasa yang tertumpah pada air mata

jkt, 12 juni '06

karena aku mengenalnya

aku melihatnya
seribu rasa yang tersembunyikan
bahagia jiwa yang harus dipinggirkan
hingga debar jantung yang harus diredam
aku juga mendengarnya

meski raut wajahnya biasa
meski hanya dingin yang terpancar di sana

takut yang menjelma gelisah
bayang asa yang tak terarah
hingga perlahan-lahan pecah terbelah
aku merasakannya

meski senyum terlukis di bibirnya
tapi sorot mata itu memandang berbeda

mungkin diam bisa kokoh sebagai perisai
mungkin senyum juga bisa menyimpan segala
bahkan mungkin tawa pun bisa menepis semua
tapi tetap ada yang berbeda

sesuatu yang hilang entah di mana
yang membuatnya ragu akan asa
yang membuatnya berkawan airmata
hingga hampir membuatnya putus asa

mungkin dia butuh perhatian
mungkin dia butuh pertolongan
tapi siapa yang mau memperhatikannya?
siapa yang mau jadi penolongnya?

jkt, 5 feb '06
ketika harus mengenal sosok yang paling dekat...

seperti...

seperti angin yang berhembus
membuai lembut daun nan halus
bangkitkan mimpi panjang
hadapi kenyataan

seperti badai di tengah lautan
menebas keras yang di hadapan
mengoyak yang tertata
menambah perih yang terluka

seperti matahari yang cemburu
pada bintang yang beribu
hadirkan rindu
menambah haru yang kaku

seperti awan yang jatuh cinta pada hujan
memahami pertemuan
melibas rindu yang terlarang
mengharap angin segera datang

seperti pohon di tengah hutan
tegak menatap angin dan hujan
memahami cinta
menepis bayang asa

jakarta, penghujung 1426 H (30 jan '06);
seperti juga mereka, aq hanya manusia biasa...

dua tanya ketika purnama

ada sebentuk rindu di sana
dengan nyalanya yang nyaris pudar,
tertempa gulana,
dari hati yang tak kunjung tegar

bagaimana bisa ku ukir asa,
jika rindu nyaris tiada?
bagaimana bisa ku raih cinta,
jika jiwa terlalu sibuk dengan prasangka?

ternyata purnama tak menjawab semua
untuk resah di dada,
kecewa di selapis asa,
atau benci yang mengotori rasa

jkt, 16 jan '06

ketika dzulhijah sudah mencapai purnama,
dan hati ini masih juga di antara rindu dan prasangka,
mencari keutuhan cintaNya...

pohon

rantingku patah;
menimpa kelopak yang terbelah,
meretas angin yang terurai,

menjiwa dalam badai.

daunku terlindas;
dalam langkah yang membekas,
dalam suram sabitnya bulan yang menutup malam.

tak kuhirup wangi bungaku,
tak kulihat gemulai mekar mahkotaku,
karena aq ingin merelakan patahnya ranting dan terbangnya daun

selepas isya di awal Desember 2005;
menyusur jalan menuju peristirahatan;
dalam penat dan letihku;
menegakkan ranting yang patah itu...

senja di kotak kaca

tak ada lagi jingga,
bahkan merah pun tak bersisa;
apalagi alam yang berkicau,
juga tarian pohon nan hijau.

dinding2 bening menyala,
bergaris;
berlekuk;
berbias warna.
mencoba mencipta indah,
tapi makin membuatku tak betah.

langit berganti warna,
hingga tak bisa lagi kutatap bulan tuk titipkan rindu seperti biasa,
atau sekedar mencari bintang di awal malam.

semua terganti;
pandanganku terbatasi;
pada satu kotak kaca;
yang menahanku paksa.

jkt, 19 des '05
untuk satu pertanyaan; Jakarta, kapan aku bisa mencintaimu?

rindu mentari

mentari dan rembulan tak pernah diciptakan untuk bersama
hanya ada sedikit waktu di awal pagi dan senja
mentari bisa mengungkap rindu
selepas itu....
rindu mentari hanya sebatas rindu
andaikan mentari bisa meminta,
tapi mentari terlalu kecil untuk berani meminta
pada Sang Pemilik Alam Raya

jkt, 2 des '05

hanya mencoba melihat lebih dekat selepas Subuh hari,
ketika dingin mengingatkan rinduku....

ku ingin menari bersamamu

ku ingin menari bersamamu
pada indah purnama
bersama bintang gemintang

ku ingin menari bersamamu
melepas rindu
mengejar mimpi
mengusir sepi

ku ingin menari bersamamu
tapi yang ada hanya bayangmu

jkt, 25 des 06

21 December 2006

sepi dan sendiri


sepi...
meski bingar di sekelilingku
sendiri...
meski ramai di sekelilingku

sepi dan sendiri
melekat pada sunyi

hampakan ruang, sempitkan luas, terbitkan tangis

karena tanya yang kebingungan arah
karena harap yang terasa tipis

sepi dan sendiri
karena aku melupakanMu

jkt, 19 des 06
ampuni khilafku ini ya Rabb...

08 December 2006

wajah berlukis sedih


dua kali ku lihat wajah itu
berlukis sedih
dalam diam nan datar
tanpa senyum yang biasa mengembang tiap harinya

dua kali ku lihat wajah itu
berlukis sedih
mencoba tegakkan tegar
jalani pilihan

dua kali ku lihat wajah itu
ketika jarak menjadi pemanis rindu

jkt, 7 des 2006
melihat wajah berlukis sedih itu, jujur... aku tak tega meninggalkannya

nyanyian sunyi


berhembus keras tapi tak menggoyahkan
menebar jala kelabu
bercahaya pada sudut terangnya

diam.
membungkam jarak dengan selaksa harap
dingin.
membuat beku tangan yang menggapai rindu

luruh...
merentang gelisah tak terpatah
sunyi...
membawa semua bernyanyi

jkt, 7 des 2006
sungguh... dalam diam aku bisa melihat semuanya lebih dekat